Menyimak berita di televisi, koran dan media-media online yang semuanya banyak sekali mengankat berita tentang tentang masalah korupsi sebagai headlinenya. Sebegitu rusakkah para penyelenggara negeri ini ? Sebegitu bobrokkah mental para pejabat kita ini? Mengapa juga tarik menarik kepentingan ini selalu jadi topik utama sebuah issu, saling serang demi untuk mengamankan bisnis atau posisinya dan kelompoknya.
Mendengar lagu yang lirik sebenarnya “mau dibawa kemana hubungan kita…..” cocok dengan prilaku para penyelenggara negara baik eksekutif (pelaksana) maupun legislatif (pengawas) sama-sama bermufakat untuk “menciptakan” kejahatan korupsi guna melanggengkan kekuasaannya karena untuk bisa berkuasa di “medan perang” lebih lama harus memiliki amunisi yang yang banyak, sebenarnya mau dibawa kemana negeri ini ?
Mendengar obrolan abang-abang ojek di warteg, sambil menikmati hidangan makanan ala warteg mereka ‘berdiskusi’ mengenai nasib mereka dari zaman ke zaman, Zaman Pak Harto Presidennya kita nggak susah-susah amat kayak gini … dengan logat betawi yang kental, Iya bang …. sekarang yang seneng hanya segelintir orang aja, yang deket ama kekuasaan aja …. rakyat kecil kayak kita kebagiannya pada saat mau pemilu aja diamplopin 50 ribu…. setelah berkuasa mereka mereka ngeruk harta bangsa ini semaunya….. lihat aja tuh korupsi milyaran, emang itu duit semua ya….? mereka becanda, saya hanya tersenyum saja mendengarnya.
Negeri kita harus belajar seperti Korea, Jepang, China, Singapore, Malaysia… Lahir dan Merdeka hampir bersamaan semuanya, hanya beda hari saja, kemelut pasca kemerdekaan juga hampir sama, perang saudara ada yang berebut kekuasaan, ada yang mempertahankan ideologi, dll. Lehat Negeri Mereka, Industrinya luar biasa maju pesat, ekonominya juga sangat kuat, sehingga rakyatnya juga makmur, Mereka meng-ekspor barang-barang hasil industri dalam negeri berupa barang elektronik, automotif tapi kita hanya bisa ekspor TKI, dengan alasan mendatangkan devisa bagi negeri (sehingga mereka disebut pahlawan devisa), sebenarnya maslah utamanya adalah tidak mampunya negeri ini memberi pekerjaan bagi warga negeranya titik.


Euforia ‘keberhasilan’ timnas sepak bola Indonesia selama satu bulan ini terasa sangat menggetarkan setiap dada masyarakat pecinta olah raga bola sepak ini. Sekitar 100.000 (seratus ribu) supporter bola yang datang sendiri-sendiri atau kelompok-kelompok kecil tanpa organisasi mereka berbondong-bondong menyerbu Stadion Utama Gelora Bung Karno (dulu Stadion Utama Senayan).
tropy yang diidam-idamkan itu, bahkan timnas Malaysia mampu berpesta berpesta dihadapan suporter Indonesia, walaupun Timnas Indonesia memenangi laga Garuda vs Harimau Malaya leg kedua ini dengan skor 2-1, walaupun selama dalam turnamen ini Indonesia memenagi hampir seluruh pertandingan dan hanya kalah satu kali, sementara Malaysia 2 kali kalah dan Tim Garuda yang mengalahkannya,
itulah sepak bola … ‘tidak sama dengan matematika yang kita pelajari selama ini….’
Saudara-saudaraku setanah air.Ini sekedar sharing jer. Tadak maksud apapun.. Kita mungkin sedikit perlu berempati kepada negara kita ni yang nyaris tak punya identitas. Setelah diteliti lebih jauh ternyata forumers Malaysiaku tidak pernah berfikir panjang apa yang akan dia orang tulis,seperti:
Waktu kecil dulu saya sangat suka berolahraga, salah satu olahraga kegemaran yang tentunya murah meriah adalah Tenis Meja atau pimpong, namun hari ini terusik dengan keywoard ini pimpong ini walaupun sama-sama ‘dipaksa’ olah raga istri, anak, adik ipar dan ponakan saya ‘laporannya’ via telepon dengan nada kecewa yang sangat memprihatinkan, lumayan basah kemeja yang di kenakan, maklum pihak sriwijaya tidak menginformasikan terlebih dahulu jika sebelum naik ke pesawat ada kegiatan olahraga cabang atletik, lari marathon, klu diinformasikan mungkin siap-siap menggunakan tshirt dan sepatu khusus untuk atletik.
Sebagai Masyarakat awam berbicara hukum adalah realitas, berdasarkan bukti-bukti atau petunjuk-petunjuk yang mengarah ke sebuah bukti. Keputusan Hukum sebaiknya tidak di diputuskan oleh keputusan politik yang kaya akan kompromi-kompromi yang didalamnya banyak sekali mengandung kepentingan baik pribadi maupun Golongan.
Salah satu Olah Raga yang sangat populer di tanah air kita adalah Sepak ke Bola,walaupun perkembangannya tidak terlalu signifikan namun para pendukung fanatik dari beberapa klub seringkali tidak mengedepankan fair play yang di kampanyekan di berbagai belahan dunia.
Marhaban yaa Ramadhan, Marhaban yaa Syahrusshiam….